Dunia Kirana sedari dulu hanya berukuran selebar jangkauan jemarinya. Bagi gadis berusia tujuh belas tahun itu, pagi tidak ditandai dengan semburat jingga di ufuk timur, melainkan oleh hawa dingin yang perlahan menguap dari lantai semen dan kokok ayam tetangga yang sayup-sayup terdengar.
Kirana bangkit dari ranjang kapuknya yang tipis. Kedua tangannya bergerak terlatih, meraba dinding kamar yang sedikit lembap untuk menuntun langkahnya menuju pintu. Di rumah ini, dia harus menghafal setiap sudut dengan saksama. Baginya, rumah ini adalah labirin yang menuntut kewaspadaan penuh; salah melangkah sedikit saja berarti petaka.
"Kirana! Mana kopi hitamku? Jam segini belum ada di meja!"
Suara berat dan serak itu menggelegar dari arah ruang tengah, merambat melalui celah bawah pintu kamar. Itu suara Bramanto, ayahnya. Suara yang selalu sukses membuat dada Kirana berdentang tegang.
"I-iya, Yah. Sebentar," sahut Kirana lirih, berharap suaranya tersampaikan.
Dia membuka pintu kamar dengan hati-hati, lalu berjalan menuju dapur. Di bawah kungkungan kegelapan yang absolut, indra peraba dan penciumannya menjadi tumpuan utama. Kirana meraba stoples gula yang bertekstur kasar, lalu beralih ke kaleng kopi. Menggunakan naluri yang tajam, dia menakar semuanya ke dalam cangkir.
Saat air panas dari termos dituang, telinganya tegak mendengar frekuensi bunyi air yang memenuhi cangkir. Begitu bunyinya memberat, dia tahu airnya sudah penuh.
Dengan langkah pendek dan terseret, Kirana membawa cangkir itu di atas nampan plastik menuju meja makan. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat ujung jempol kakinya membentur keras kaki kursi yang rupanya sengaja diletakkan agak ke tengah.
Prang!
Cangkir keramik itu pecah berkeping-keping. Air kopi yang panas menciprat, mengenai punggung kaki telanjang Kirana. Rasa perih yang membakar langsung menusuk kulitnya, membuat Kirana memekik kecil sambil refleks mundur.
"Astagfirullah, Kirana! Kamu itu punya mata atau enggak, sih?!" bentak Bramanto. Kursi kayu berderit kasar saat pria itu berdiri dengan gusar dari meja makan. "Cuma bikin kopi saja tidak becus! Dasar anak tidak berguna!"
"Maaf, Yah... kursinya agak bergeser, Kirana tidak tahu," cicit Kirana. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya yang kosong. Dia berlutut, mencoba meraba lantai untuk mencari pecahan beling dengan tangan yang gemetar.
"Jangan pakai alasan kursi! Kamu itu yang memang teledor! Dasar Beban!" Bramanto mendengus kasar, lalu melangkah menjauh, sama sekali tidak peduli pada punggung kaki anaknya yang mulai memerah dan melepuh. "Siti! Bersihkan ini! Lihat anak gadismu yang cacat ini, bikin rumah kotor saja!"
Dari arah kamar utama, Siti keluar dengan langkah terburu-buru. Namun, alih-alih menghampiri Kirana yang meringis kesakitan, Siti justru langsung mengambil sapu dan kain pel di dekat kamar mandi.
"Kamu ini, Kirana, kalau tidak bisa bantu Ibu, minimal jangan bikin susah," ujar Siti dengan nada datar. "Ibu sudah capek mengurus rumah dari subuh, jangan ditambah harus membersihkan kekacauan yang kamu buat."
"Bu, kaki Kirana kena air panas..." bisik Kirana, berharap ada sedikit saja rasa iba yang mengalir dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Nanti juga sembuh sendiri. Sana masuk kamar, jangan menghalangi jalan Ibu," sahut Siti dingin, ia sibuk menyapu pecahan beling tanpa sekali pun menyentuh atau memeriksa kondisi putrinya.
Bagi kedua orang tuanya, Kirana adalah sebuah coretan kelam yang merusak kesempurnaan keluarga. Harapan, kasih sayang, dan kehangatan di rumah ini telah lama habis dieksploitasi oleh anak emas mereka, si anak sulung: Arif.
Tepat saat itu, pintu depan rumah terbuka. Langkah kaki yang tegap terdengar masuk, diikuti helaan napas lelah yang sarat akan kebanggaan. Arif, kakak Kirana, baru saja pulang dari kegiatan lembur kerja kelompok untuk perkuliahannya pagi itu.
"Wah, ada apa ini? Kok bau kopi tumpah?" tanya Arif dengan nada santai, sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Seketika, atmosfer di dalam rumah berubah drastis. Nada suara Siti yang tadinya sedingin es, mendadak melunak penuh kehangatan. "Eh, Arif sudah pulang. Capek, Nak? Ibu sudah masakkan ayam goreng kesukaanmu di tudung saji. Makan dulu, ya."
Bramanto yang tadinya bermuka masam pun langsung tersenyum bangga dari depan televisi, "Arif, gimana tugas kelompokmu? Sukses? Sini, cerita sama Ayah."
"Lancar semua, Yah. Doakan kelompok Arif mendapat nilai bagus dari dosen," jawab Arif dengan nada percaya diri, ia berjalan melewati Kirana begitu saja seolah adiknya hanyalah seonggok perabot rusak yang tak kasatmata.
"Bagus! Itu baru anak Ayah. Kamu harus sukses, Rif, jadi tumpuan keluarga. Jangan seperti adikmu ini, yang cuma bisa jadi beban di rumah sampai tua. Tidak punya masa depan," ujar Bramanto, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh Kirana.
Kirana bangkit perlahan dengan bertumpu pada pinggiran meja. Dadanya terasa luar biasa sesak, bukan karena luka bakar di kakinya, melainkan karena penolakan mentah-mentah yang setiap hari harus dia telan. Di rumah ini, dia hanyalah sebuah kesalahan takdir yang tidak pernah diinginkan.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Kirana berjalan kembali menuju kamarnya yang sepi. Dia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu duduk bersandar di balik pintu sambil memeluk lututnya sendiri.
***
Bersambung...
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode DISABILITAS.COM-PEDULI-1836
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.
