Lompat ke Konten Utama
Manajemen & Proses07 Juli 2026

Pengadaan IT dan Dokumen VPAT

Penulis

Redaksi Disabilitas.com

3 Menit Baca2 Kali Dibaca

Pengadaan IT dan Dokumen VPAT: Menggeser Risiko ke Vendor

Tidak peduli seberapa keras tim developer internal Anda bekerja untuk membuat situs web perusahaan menjadi aksesibel (100% patuh WCAG 2.2 Level AA), upaya tersebut akan sia-sia jika Anda mengintegrasikan perangkat lunak pihak ketiga yang cacat.

Jika Portal Karir utama Anda menggunakan plugin widget HR dari vendor pihak ketiga yang tidak bisa diakses dengan keyboard, pelamar tunanetra yang gagal melamar pekerjaan akan menuntut perusahaan Anda, bukan vendor tersebut.

Untuk mencegah "keracunan ekosistem" semacam ini, Jonathan Lazar dalam bukunya Ensuring Digital Accessibility through Process and Policy menekankan pentingnya strategi "Shift-Right" dalam Pengadaan (Procurement). Artikel ini akan membahas apa itu VPAT dan bagaimana mengubahnya menjadi senjata kontrak Anda.


1. Apa itu VPAT?

VPAT (Voluntary Product Accessibility Template) adalah format dokumen standar yang dibuat oleh Information Technology Industry Council (ITI) untuk mengevaluasi seberapa mudah produk TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) digunakan oleh penyandang disabilitas.

Sebuah dokumen VPAT yang telah diisi oleh vendor disebut sebagai ACR (Accessibility Conformance Report). Di dalamnya, vendor harus menjawab baris demi baris dari setiap kriteria WCAG 2.1 atau 2.2 dan menyatakan tingkat kepatuhan produk mereka (misalnya Supports, Partially Supports, atau Does Not Support).


2. Bahaya VPAT Palsu atau Tidak Akurat

Dalam dunia perangkat lunak B2B (Business to Business), divisi Sales sering kali menganggap VPAT hanyalah dokumen administratif yang harus diserahkan agar mereka memenangkan tender proyek.

Banyak vendor perangkat lunak akan mengisi "Supports" (Mendukung) di semua 78 kriteria WCAG tanpa pernah benar-benar mengujinya. Mereka mengandalkan fakta bahwa sangat sedikit staf pengadaan (Procurement Officers) yang mengerti cara membaca dokumen tersebut.

Cara Membaca VPAT secara Kritis:

  • Lihat Kolom Keterangan (Remarks): Jika vendor mengisi "Partially Supports" (Mendukung Sebagian) pada kriteria 1.4.3 (Contrast Minimum), mereka wajib menjelaskan di kolom keterangan: komponen mana yang gagal, dan apa rencana perbaikannya (roadmap).
  • Siapa yang Melakukan Audit? VPAT yang diisi secara internal oleh tim developer vendor tersebut sering kali bias. VPAT yang paling dapat diandalkan adalah yang diuji dan disahkan oleh auditor aksesibilitas pihak ketiga yang independen.

3. Jadikan Aksesibilitas Sebagai Syarat Mutlak (Deal-Breaker)

Staf Pengadaan dan Legal harus bekerja sama dengan tim teknis (atau Accessibility Champion) sebelum perangkat lunak pihak ketiga dibeli.

  1. RFP (Request for Proposal): Dalam dokumen lelang awal, sertakan pernyataan eksplisit: "Semua vendor harus menyertakan VPAT terbaru (berdasarkan WCAG 2.1 AA atau 2.2 AA). Produk tanpa VPAT akan otomatis didiskualifikasi."
  2. Uji Coba Langsung (Trial): Jangan percaya buta pada dokumen VPAT. Minta akun sandbox (uji coba), lalu minta pengguna tunanetra dari perusahaan Anda (atau auditor internal Anda) untuk mencoba menavigasi perangkat lunak tersebut menggunakan Screen Reader. Jika klaim di VPAT tidak sesuai realitas, batalkan pembelian.

4. Perjanjian Tingkat Layanan (SLA) dan Bahasa Kontrak

Klausul aksesibilitas harus dimasukkan ke dalam kontrak legal dan SLA (Service Level Agreement).

Kontrak perangkat lunak Anda harus memiliki klausul yang kurang lebih menyatakan: "Vendor menjamin bahwa produk ini mematuhi pedoman WCAG 2.1 Level AA. Jika di kemudian hari ditemukan celah aksesibilitas yang melanggar pedoman ini, Vendor wajib menyediakan perbaikan kode (patch) dalam waktu 30 hari kalender tanpa biaya tambahan. Jika Vendor gagal, Kontraktor berhak membatalkan lisensi dengan pengembalian dana penuh, dan Vendor setuju untuk menanggung segala biaya litigasi ganti rugi terkait hukum aksesibilitas."

Klausul yang kuat (indemnification clause) akan secara resmi menggeser risiko hukum (liability) dari perusahaan Anda kembali ke pundak vendor. Ini memaksa vendor untuk memprioritaskan aksesibilitas.


5. Kesimpulan

Membangun ekosistem digital yang inklusif berarti Anda tidak boleh memasukkan perangkat lunak eksklusif ke dalamnya. Gatekeeping (penjagaan gerbang) pengadaan perangkat lunak IT menggunakan instrumen VPAT dan kontrak yang kuat adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa investasi aksesibilitas internal Anda tidak dihancurkan oleh kode rapuh dari pihak luar.


Referensi

Filosofi penggeseran tanggung jawab (shifting liability) dan kerangka prosedural evaluasi dokumen VPAT dalam proses Procurement IT diekstrak dari analisis kebijakan korporasi di dalam buku Ensuring Digital Accessibility through Process and Policy oleh Jonathan Lazar. Integrasi bahasa kontrak hukum (SLA) merupakan praktik manajemen risiko standar dari literatur tersebut.

Bagaimana menurut Anda?

Berikan reaksi Anda pada artikel ini